Thursday, August 19, 2010

NEWSLETTER UMB JUARA III DALAM LOMBA ING GRIYA PERHUMAS

Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) menyelenggarakan Lomba Ing Griya yang digelar dalam “PERHUMAS Night” di Balai Agung Provinsi DKI Jakarta. PERHUMAS Night adalah rangkaian acara Konvensi Nasional PERHUMAS pada tanggal 21-22 Juli 2010 lalu. PERHUMAS merupakan organisasi profesi praktisi humas dan komunikasi Indonesia yang didirikan pada 15 Desember 1972. PERHUMAS secara resmi tercatat di Kementrian Dalam Negeri sebagai organisasi nasional profesi kehumasan di Indonesia dan pada Internasional Public Relations Association (IPRA) yang berkedudukan di London, Inggris. PERHUMAS bahkan membentuk regenerasi perwakilan PERHUMAS Muda di setiap kota Badan Pusat Pengurus (BPC). Sampai saat ini hampir 2000 paktisi PR telah menjadi anggota PERHUMAS.

Sedangkan Lomba Ing Griya merupakan anugerah atas prestasi tertinggi bagi praktisi PR yang mampu menyusun media media kehumasan organisasi yang baik dalam kerangka mengkomunikasikan visi misi organisasi sekaligus sebagai proses pencitraan organisasi.

Dalam acara PERHUMAS Night ini, ada delapan kategori Lomba Ing Griya yang dilombakan diantaranya kategori intranet, annual report print media, company profile print media, company profile audio visual, website, newsletter, poster dan inhouse magazine. Dalam acara ini Universitas Mercu Buana mengikuti lomba untuk kategori Newsletter dan berhasil masuk sebagai nominasi. Setelah melewati penilaian selanjutnya oleh dewan juri yang begitu ketat dan penuh pertimbangan, akhirnya sesuai dengan Surat keputusan dewan juri Lomba Ing Griya Nomor : 01/Kpts/IG/PERHUMAS/2010 Tentang Penetapan Pemenang Lomba Ing Griya 2010 memutuskan Universitas Mercu Buana menjadi juara ke-3 untuk kategori Newsletter. Anugerah Lomba Ing Griya diberikan oleh Ketua Umum BPP PERHUMAS, Bapak Muslim Basya, kepada UMB, yang diwakili Kepala Biro Humas & Customer care, Ibu Irmulan Sati T, SH, MSi. Hal ini sangat membanggakan Universitas Mercu Buana karena anugerah Lomba Ing Griya ini adalah yang kedua, setelah tahun 2008 lalu memenangkan Juara ke III kategori yang sama dalam Konvensi Nasional PERHUMAS di Batam.

Diharapkan setelah adanya acara ini setiap perusahaan yang mengikuti lomba dapat terus menjaga keharmonisan komunikasi terhadap stakeholder dan lingkungan sekitar masing-masing dengan berbagai bentuk komunikasi yang ada. Bravo UMB !


Baca Selengkapnya »»

Monday, August 16, 2010

PROBOSUTEDJO BERTAHAN DI SEGALA KONDISI

Abstract

Lama tak terdengar kabar tentang Probosutedjo. Terakhir adalah ketika ia terjerat kasus suap dengan oknum Mahkamah Agung. Ia di vonis empat tahun atas korupsi dana reboisasi di Kementrian Kehutanan. Kini, ia telah menghirup udara bebas dan menjadi ‘orang biasa.’

Probosutedjo, adik Presiden RI kedua, HM Soeharto, menjadi salah satu sosok kontroversi. Probo disebut-sebut sebagai salah satu mesin pencari uang Keluarga Cendana. Kesuksesannya dituding sebagai bagian dari praktik kolusi, korupsi dan nepotisme atau KKN.

“Saat di penjara, saya tidak pernah sedih. Penjara memang terbatas, bukan seperti apartemen atau hotel. Semua serba susah. Tapi, saya juga pernah susah, pernah hidup di hutan. Jadi, saya anggap tinggal di penjara, seperti tinggal di hutan. Dan ternyata benar, banyak orang seperti orangutan,”ujar probo yang tanggal 1 Mei kemarin merayakan ulang tahunnya ke-80.

Probo tersenyum simpul jika ada yang mengaitkan kesuksesannya karena dekat dengan penguasa Orde Baru. “Sebelum Mas Harto jadi presiden, saya sudah memulai usaha sendiri,” ujarnya.

Ia mengisahkan, di awal dekade 50-an, ia merantau ke Pematang Siantar, Sumatera Utara. Di sana, ia bekerja sebagai guru. Namun, Probo tidak tahan dengan gaji seorang guru. Ia pun banting profesi sebagai pedagang.

Sepuluh tahun Probosutedjo kemudian kembali ke Jakarta. Saat itu, ia memulai usaha sendiri, sebagai supplier sejumlah kebutuhan. Ia pernah mengekspor rambut ke Hong Kong.

“Saat itu saya bertemu pengusaha Hong Kong. Dia butuh rambut untuk memenuhi kebutuhan salon-salon di sana. Saya coba memenuhi permintan itu dengan mulai mendekati para pengumpul. Namun, suatu kali saya menemukan kenyataan yang membuat saya menghentikan bisnis ini. Suatu hari seorang pengumpul memberikan rambut yang kotor kepada saya. Saya tanya, kok, rambutnya kotor? Dia bilang karena harus mengambilnya dari dalam tanah. Hah? Ternyata yang dia bawa itu rambutnya orang mati,” kenang Probosutedjo.

“Tahun 1969, saya bersahabat baik dengan pengusaha rokok. Saat itu, saya mengetahui minimnya pasokan cengkeh dari petani dalam negeri. Sebenarnya kebutuhan cengkeh dalam negeri tidak begitu besar, hanya sekitar 10.000 ton pertahun. Tapi, hal itu tidak bisa dipenuhi, mengimpornya juga bukan perkara mudah. Akibatnya, harga cengkeh melambung tinggi. Perusahaan-perusahaan rokok yang kecil terancam bangkrut,” ujarnya.

Di bisnis cengkeh inilah Probo disebut-sebut menggunakan kedekatannya dengan HM Soeharto. Pasalnya, ia bersama pengusaha Liem Sio Liong ditunjuk sebagai pengimpor resmi cengkeh untuk Indonesia. Selain itu, ia juga ditunjuk untuk mengelola tata niaga cengkeh di Indonesia.

“Saat itu tidak ada yang melihat peluang bisnis ini. Padahal, Negara akan mendapatkan keuntungan dari bisnis ini. Maka saya mengusulkan kepada Menteri Perdagangan waktu itu, Prof Soemitro, untuk membangun perkebunan cengkeh,” ujarnya.

Di awal pembuatan perkebunan itu, Probo sempat bingung. Ia memang berasal dari petani, juga pernah mengerjakan bisnis hasil bumi di Sumatera Utara.” Tapi, saya belum pernah membuat perkebunan. Saya mengandalkan ketekunan saja,” ujarnya

TERSANGKUT KASUS

Sayangnya, bisnis yang berkaitan dengan perkebunan dan hutan inilah yang membuat Probo tersangkut kasus. Ia merasa dijebak ketika berkaitan soal suap dengan oknum Mahkamah Agung.

“Saya punya saksi kalau saya dan KPK itu memang ingin menjebak. Tapi, kenapa saya juga dijadikan tersangka? Padahal uang yang digunakan untuk menyuap itu sampai sekarang belum dikembalikan,” ujarnya.

Tapi, palu sudah diketuk, dan Probo sudah menjalani hukuman. Di dalam penjara pun, ia tidak mau berhenti berkarya. Di LP Cipinang, ia bersahabat dengan Abdullah Puteh, mantan Gubernur Aceh, dan Beddu Amang, mantan Kepala Bulog. Mereka bertiga kemudian berusaha mengangkat kehidupan penjara.

Kini, Probosutedjo tidak lagi ingin campur tangan dalam dunia politik. Di usianya yang ke-80, Probosutedjo ingin mendedikasikan hidupnya untuk pertanian.

“ Asal saya adalah petani, maka saya ingin kembali sebagai petani,” ujarnya.
PROBOSUTEDJO

Tempat & Tanggal Lahir

Kemusuk, Yogyakarta, 1 Mei 1930

Jabatan

Chairman dan CEO Mercu Buana Group

Karir
 Mendirikan SMP Progresif tahun 1951
 Guru Taman Dewasa tahun 1957
 Guru/Pamong Taman Dewasa dan Taman Madya (SMA)
 Wakil Ketua (Direktur) Taman Madya Taman Siswa Pematang Siantar
 Wiraswasta tahun 1963
 Chairman PT Mertju Buana
 Chairman PT Kedaung Surya dan PT Kedaung Subur (1969)
 Chairman PT Buana Estate tahun 1972
 Chairman PT Wisata Triloka Buana tahun 1987

Organisasi
 Kadin Bidang Pembinaan Pengusaha Kecil 1976-1979
 Kadin Bidang Organisasi 1979-1982
 Kadin Wakil Ketua Umum 1982-1988
 Pengda Pelti DKI Jakarta tahun 1985
 Kadin Ketua Majelis Pertimbangan 1988-1993
 Ketua Umum Panitia Solidaritas Muslim Bosnia tahun 1992
 Kadin Ketua Dewan Kehormatan 1994-1999

Baca Selengkapnya »»
 
© Copyright by Mercu Buana News